Senin, 15 April 2019

Cinta Kasih


Cinta Sebagai Nafas Kehidupan 
Oleh:Winda.D 

Kepada Merage suci Pinandita lanang Istri 
Kepada yang Saya Hormati Sesepuh pini sesepuh uma
Kepada yang saya banggakan umat sedharma sekalian.
Sebelumnya saya haturkan sembah panganjal
Om Swastyastu
Om Anubadrah krtawoyantu wiswatah 
Om Avighnam astu Namo Sidham 
 Umat sedharma yang berbahagia… 
Sebelum saya menyampaikan percikan Dharma ini, mari kita bersama-sama mengucapkan puji Syukur kepada Nining Bhatara, Ida Sang Hyanag Widhi Wasa Atas Asung Kerta Waranugraha beliaulah Kita dapat berkumpul  pada malam hari ini di Pura Jagat Natha dalam Keadaan Sehat, Selamat, lancar tanpa ada halangan apapun. Adapun pesan Dharma ini bersifat mengingatkan kita terhadap hal-hal yang selama ini telah kita lupakan, yaitu dengan judul: Cinta sebagai Nafas Kehidupan.
Umat sedharma yang berbahagia.. 
Ketika berbicara tentang cinta  pasti tidak akan ada habisnya. Cinta tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita semua dan sudah sangat familiar diberbagai kalangan. Cinta Adalah Sebuah Rasa yang tidak bisa di ungkapkan melalui kata-kata namun hanya dapat di rasakan dengan hati. Cinta Adalah sebuah rasa yang  tanpa disadari timbul dengan sendirinya dalam diri seseorang, yang tidak mengenal jarak, waktu, keadaan maupun usia. Cinta itu ibarat Air, kita bisa jatuh  dan tenggelam didalamnya tetapi kita tidak bisa hidup tanpanya.
Akan tetapi perjalanan cinta tidak semudah yang kita bayangkan. Pada jaman sekarang ini cinta sudah jauh dari pada hakekat yang sebenrnya. Cinta  sering kali dijadikan sebagai pemuas nafsu birahi seseorang,  bahkan cinta dijadikan sebagai sarana untuk menghancurkan hidup orang lain. Karna cinta seseorang bisa lupa diri, karna cinta  pula seseorang bisa celaka bahkan sampai bunuh diri. Sehingga akhirnya orang pun membenci cinta karna di anggap sebagai pembawa sebuah penderitaan. Namun tidaklah benar demikian, tetapi bagaimana cinta itu diubah dalam kehidupan nyata menjadi sebuah jalan atau sebuah jembatan yang  menghubungan antara sebuah perbedaan dan keberagaman, Agar tercipta sebuah keselarasan. karna cinta adalah sebagai nafas sebuah kehidupan untuk mencapai Perdamaian. Ada 2 Topik yang akan  saya bawakan pada kesempatan kali ini  yaitu:
Rumusan Masalah:
1.      Apakah Arti Cinta Dalam Kehidupan ini?
2.      Bagaimana Memaknai Cinta Sebagai Nafas kehidupan ini?
 1.      Arti Cinta Dalam Kehidupan ini
            Di Dalam kehidupan ini tentunya kita tidak pernah lepas dari yang namanya cinta, baik cinta terhadap Tuhan, terhadap orang tua, orang tua terhadap anaknya bahkan cinta terhadap pasangan. Cinta memiliki pengertian yang sangat luas, cinta bukan hanya perasaan yang di rasakan oleh sepasang kekasih, melainkan cinta adalah perasaan welas asih  antara sesama manusia dan seluruh mahluk ciptaan Tuhan yang lainya. Dengan kita mencintai sesama mahluk hidup maka kehidupan ini akan damai dan bahagia, tidak ada lagi rasa saling membenci,  tidak saling menjatuhkan antara kelompok satu dengan yang lainnya, tidak merasa dirinya atau kelompoknya paling benar
            Bagi  siapa saja yang telah mencapai tahap ini dapat dipastikan kehidupannya semakin bahagia. Cinta kasih yang tulus memberikan dampak yang sangat fundamental dalam memberikan arti dan makna kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. Dimensi waktu yang lampau, yang sekarang dan yang akan datang merupakan perputaran cakra kehidupan yang harus dilalui dengan semangat cinta kasih yang tak kunjung padam kepada semua ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa. Seperti yang telah di jelaskan di Dalam Bhagawad Gita IX.29

 samo ham sarvo bhutesu
na me devsyo sti na pryah,
Ye bhajanti tu mam bhaktya  
mayi te tesu capy aham 
Artinya: “Aku adalah sama bagi semua mahluk; Bagi-ku  tiada yang terbenci dan yang terkasihi; tetapi mereka yang berbakti kepada pada-ku  dengan penuh pengabdian, mereka ada padaku dan aku ada pada mereka”.  Dalam sloka tersebut dapat kita pahami bahwa Tuhan  pun tidak pernah membedakan antara satu dengan yang lain, kelompok satu dengan yang lainnya,  di mata Tuhan tidak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk. Akan tetapi bagi siapa saja yang Berbakti kepadanya dengan penuh pengabdian maka ia pun akan selalu dalam lindunganya Tuhan. Tuhan menyelimuti alam semesta beserta isinya, dia berada di mana-mana yang disebut Vyapi vyapaka Nirvikara. 
 2.      Bagaimana Memaknai Cinta Sebagai Nafas Kehidupan 
Umat sedharma yang berbahagiaSadar tidak sadar sesungguhnya kehidupan ini adalah cinta. Kita mampu hidup, bertahan, mampu berinteraksi satu dengan yang lainya ini semua kerena adanya cinta. Cinta siapakah itu? Cintanya Tuhan dan cinta Orang tua kita. Dapat kita bayangkan ketika pertama kali kita lahir kedunia ini tanpa adanya cinta dari keduanya apa yang akan terjadi? Tentu akan sangat kecil kemungkinan untuk kita bertahan hidup. Jadi keberadaan keduanya ini sangatlah penting tanpa keduanya ini kita tidak akan mampu berada dan berdiri disini hingga saat ini.Lalu bagaimanakah menumbuhkan cinta kasih dalam diri seseorang? Untuk menumbuhkan rasa cinta kasih dalam diri kita tentunya kita harus mengenali siapa diri kita yang sebenarnya. Dalam  Brhad Aranyaka Upanisad pun mengatakan “Aham Brahma Asmi  yang Artinnya “Aku adalah Brahman”. Yang dimaksud dengan Brahman atau Tuhan itu sendiri, bukanlah badan materi kita tetapi jiwa, roh, atau Atman percikan terkecil dari Tuhan yang teleh menyebabkan semua mahluk bisa hidup, bernafas makan, Minum, bisa berinteraksi satu dengan yang lainya.
Dari manta ini dapat kita simpulkan bahwa ketika kita menyadari sesungguhnya kita semua sama-sama berasal dari  Tuhan dan menyadari bahwa kita semua adalah satu Ayah  dan satu Ibu, maka  rasa persaudaraan itu pun secara otomatis akan timbul didalam diri seseorang. maka tidak akan ada lagi pertentangan  atau perselisiahan diantara kita semua. Jika demikian maka sebuah kedamaian, keadilan pun akan terwujud didalam Masyarakat Bangsa dan NegaraTetapi melihat realita sekarang ini sungguh sangat memprihatin. Khususnya Agama, di mana agama tidak lagi dijadikan sebagai pedoman hidup bagi setiap manusia. Seringkali agama dijadikan alasan untuk membeda-bedakan antara kebudayann satu dengan yang lainnya oleh  seseorang atau oknum-oknum yang tidak bertanggunng jawab hanya demi sebuah kedudukan atau pangkatnya saja. Seperti halnya yang kita sama-sama  rasakan saat ini, dimana agama yang seharusnya dijadikan sebagai pedoman dan dijadikan sebagai landasan Etika dalam berpolitik  akan tetapi agama telah di campur adukkan dengan politik.Banyak  di antara saudara-saudara kita yang menjalai hidup dalam kekerasan, kegelisahan dan dihantui kecemasan. Apakah penyebab dari semua ini? Penyebabnya adalah Sadripu. keinginan yang tiada habisnya, mementingkan diri sendiri, kemarahan, kebencian dan keserakahan. Dimana Sad Ripu adalah enam musuh yang terdapat di dalam diri manusia yang harus kita kendalikan, karena dapat menyebabkan manusia lupa diri tidak mampu membedakan mana yang baik dan  yang buruk. Sehinggga berbuat sesuka hati mengikuti nafsu dan keinginannya. Keenam sifat ini juga akan menyebabkan hancur dan terpuruknya  keadaan Bangsa dan Negara kita. Untuk itulah hendaknya kita semua mampu menyadari dan mengendalikan diri kita agar tidak terjatuh kedalam kesengsaraan. Seperti yang telah di jelaskan di dalam Bhagavad Gita XII.13
”Advesta sarva-bhutanam
maitrah karuna eva ca,
nirmamo nirahamkarah 
sama-dukha-sukah ksami”.
Artinya: Dia yang tidak membenci segala mahluk bersahabat dengan cinta kasih, bebas dari keakuan dan keangkuhan, sama dalam suka dan duka, dan memberi maaf.
Dalam sloka ini sudah sangat jelas dikatakan bahwa dalam hidup ini kita tidak boleh membenci satu sama lain antara seluruh umat manusia. kita harus menjunjung tinggi persaudaraan dalam cinta kasih. Bebas dari rasa kesombongan dan keangkuhan, selalu berpegang teguh pada kebenaran, saling merangkul dalam keadaan atau situasi apapun. selalu memberi maaf terhadap orang-orang yang pernah melakukan kesalahan. Karena sejatinya, setiap manusia sudah pasti  pernah melakukan kesalahan, tidak ada manusia yang sempurna. Karena kesempurnaan itu hanyalah milik Tuhan/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 
Kesimpulan: Dapat saya simpulkan bahwa ternyata makna dari cinta sangatlah luas tidak hanya rasa yang di rasakan oleh suatu pasangan kekasih saja, tetapi cinta merupakan perasaan walas asih antara seluruh  mahluk ciptaan Tuhan yang lainya dan ketika kita menyadari bahwa kita semua berasal dari Tuhan, kita semua adalah satu ayah satu ibu maka kita semua adalah bersaudara. Dengan begitu maka akan terciptalah perasaan cita kasih yang tulus di dalam diri kita. Negara ini akan terasa tentram dan bahagia jika suluruh umat manusia mempunyai perasaan cinta kasih  yang tulus kepada seluruh mahluk hidup yang lainya. 
Ajakan: Melalui dharma wacana ini saya mengajak umat sedharma sekalin untuk memiliki sifat :
v  layaknya seperti sinar matahari yang tidak pernah memandang siapa yang akan disinari olehnya, bahkan iya pun tidak pernah memalingkan sinarnya terhadap kotoran seklipun, jika sudah seperti itu maka akan terwujud cinta kasih dalam diri kita.
v  Sekian Pesan Dharma yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih, Akhir kata saya tutup dengan paramasanti.

Nama:Winda D
Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma nusantara Jakarta 
Dosen Pengempu: Yan Mitha Djaksana M.Kom
 Om Santih,Santih, Santih Om

Tidak ada komentar:

Posting Komentar